Menjelang 17 Agustus yang baru lalu, beberapa teman menyebarkan informasi dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Badan Bahasa). Intinya tentang penulisan ungkapan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Indonesia.

Saya tertarik dengan urutan kata yang ditekankan dalam info itu.

“Ulang tahun Republik Indonesia ke-72” dianggap salah.

“Ulang tahun ke-72 Republik Indonesia” dinyatakan benar.

Muncul pertanyaan:

Apakah “Republik Indonesia” menerangkan “ulang tahun ke-72” atau “ke-72” menerangkan “ulang tahun Republik Indonesia”?

Badan bahasa mendahulukan “ke-72” ketimbang “Republik Indonesia” untuk menerangkan “ulang tahun” yang menjadi inti frasa. Jika tidak ada kata lain yang mengikat “ulang tahun”, penulisan “ulang tahun ke-72” memang pas. Namun, dalam info dari Badan Bahasa itu ada “Republik Indonesia” sebagai frasa pemilikan. Selain itu, numeralia tingkat “ke-72” berfungsi sebagai keterangan dan biasanya dapat didahului kata “yang”.

Saya pun menyisipkan “yang” sehingga frasa nominal dalam info itu menjadi:
“Ulang tahun yang ke-72 Republik Indonesia” dan “Ulang tahun Republik Indonesia yang ke-27”. Mana yang lebih pas?

Betul, jika ditulis “ulang tahun Republik Indonesia (yang) ke-72”, maknanya bisa rancu dan sebagian orang mungkin bertanya, “Yang ke-72 itu ulang tahun atau Republik Indonesia?” Memangnya, di dunia ini Republik Indonesia ada berapa?
Untuk membuktikan keterikatan “ulang tahun” dan “Republik Indonesia”, saya mengganti “Republik Indonesia” dengan pronomina “-nya”.

“Pada perayaan ulang tahunnya (yang) ke-72, Republik Indonesia mendapatkan hadiah manis, yaitu kemenangan timnas sepakbola atas Filipina dan medali emas dari cabang panahan SEA Games 2017.”

Bandingkan dengan:

“Pada perayaan ulang tahun ke-72-nya, Republik Indonesia mendapatkan hadiah manis, yaitu kemenangan timnas sepakbola atas Filipina.”

Mana yang lebih pas: “ulang tahun ke-72-nya” atau “ulang tahunnya (yang) ke-72”?
Contoh lain, Pak Surya dan Bu Wulan telah menikah selama 40 tahun. Mereka mengirim undangan untuk memperingatinya. Kira-kira, mereka menulis “syukuran ulang tahun perkawinan kami yang ke-40” atau “syukuran ulang tahun ke-40 perkawinan kami”?
Jika numeralia tingkat diletakkan di akhir frasa sepanjang apa pun, itu tetap berterima alias pas. Contoh: “Peringatan Detik-Detik Proklamasi dan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-72”.
*

Jika diperlukan, penggunaan kata “yang” sebelum numeralia tingkat bisa membuat makna terasa semakin utuh. Namun, saya memperhatikan penutur bahasa Indonesia, terutama dalam kaitannya dalam teks terjemahan dari bahasa Inggris, cenderung menghindari kata “yang”.

Contohnya, ketika menerjemahkan “the first president of Indonesia”, sebagian penerjemah tidak menulis “Presiden Indonesia yang pertama”. Mereka menghindari “yang”, tetapi merasa “Presiden Indonesia pertama” kurang pas, jadi menulis “presiden pertama Indonesia” dan lama-lama semakin terbiasa dengan pola itu.

Jika saya mendarat di Asgardia besok atau lusa, apakah beritanya berbunyi “Moh. Sidik Nugraha, orang pertama Indonesia yang mendarat di Asgardia” atau “Moh. Sidik Nugraha, orang Indonesia pertama yang mendarat di Asgardia”?
*

Pada 17 Agustus 2045, sesosok alien berkode MSN mengobrol dengan temannya yang berkode MSG, “Ini negara mana yang ulang tahun, kok heboh banget?”

“Republik Indonesia,” jawab MSG.

“Ulang tahun Republik Indonesia yang keberapa?” tanya MSN.

“Ulang tahun Republik Indonesia yang ke-100,” jawab MSG secara lengkap.[]

Iklan

Panas yang menyengat di Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, menjadi teduh ketika saya berbelok ke Jalan Kebagusan Raya. Di kiri dan kanan jalan ini, masih banyak pohon rindang. Udara pun terasa lebih sejuk. Saya mengayuh sepeda untuk mengisi waktu luang di tiga taman, yaitu Taman Spathodea, Taman Dadap Merah, dan Taman Sepat.

Tujuan pertama adalah Taman Spathodea. Tentu saja, pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu adalah tentang nama. Namun, saya tidak akan menjelaskannya di sini. Anda bisa dengan mudah mendapatkan penjelasannya dengan bertanya kepada Mbah Google.

Taman Spathodea terletak di Jalan Kebagusan Raya, tepatnya, di perbatasan antara Kebagusan dan Jagakarsa. Dibandingkan dengan dua taman lain yang akan dibahas, taman ini lebih mudah dijangkau. Selain berada di pinggir jalan utama, taman ini juga dilalui oleh angkutan umum, yaitu mikrolet M17 Pasar Minggu-Lenteng Agung. Sambil berteduh di bawah pohon, saya beruntung karena masih bisa mendengarkan suara tonggeret di sini.

Saya kembali mengayuh sepeda untuk menuju ke Taman Dadap Merah. Letaknya di Jalan Kebagusan Dalam I. Ketimbang dua taman lain, taman ini unik karena dilewati sungai yang mengalir deras. Sayangnya, di kolam masih terlihat sampah.

Setelah beristirahat sebentar di Taman Dadap Merah, saya langsung menuju Taman Sepat.

“Kenapa namanya Taman Sepat? Apa karena di dalam kolamnya banyak ikan sepat?” tanya seorang teman.

Saya tidak tahu karena belum pernah ikut menguras kolam di taman ini. Kesimpulan sementara, diberi nama Taman Sepat karena lokasinya berada di Jalan Sepat I. Luas taman ini lebih kecil dibandingkan dua taman sebelumnya.

Ketiga taman itu sepertinya memiliki desain serupa, yaitu taman dengan jogging track, kolam, dan sarana bermain bagi anak. Namun, tetap memiliki ciri khas masing-masing. Kalau tidak percaya, silakan buktikan sendiri sambil ngabuburit sore ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selain sunyi, tidak ada yang lebih dirindukan telinga yang setiap hari didera bising klakson dan mesin kendaraan bermotor. Dalam kesunyian mungkin saya mendengar ramai suara burung, serangga, gemerisik daun tertiup angin, dan gemericik air yang damai menenteramkan. Bahkan, bisa jadi dalam keadaan seperti itu saya menemukan diri sendiri karena setiap hari di media massa saya lebih sering memperhatikan orang lain. Sunyi bukan berarti sepi.

Keinginan untuk tahu lebih banyak tentang Citarum membawa saya ke hulu sungai itu. Dalam dua perjalanan sebelumnya, saya menyusuri tepian sungai sampai ke Ciparay dan Batujajar. Saya mengetahui hulu sungai terpenting di Jawa Barat itu terletak di kaki Gunung Wayang sejak lama. Namun, laporan khusus Kompas tentang Citarum menambah informasi bahwa sungai itu berawal dari Situ Cisanti.

Cisanti, Cisanti, Cisanti … terus mengusik kepenasaran dalam hati. Rasanya terlalu cantik untuk nama sebuah danau buatan. Daripada mati penasaran, lebih baik saya membunuh kepenasaran itu. Minggu (2/10/2011), saya mengayuh sepeda ke Cisanti. Berangkat dari rumah pukul enam pagi, saya sampai di tujuan kira-kira pukul setengah dua siang.

Dari pusat kota Bandung, Cisanti dapat ditempuh lewat dua jalur. Pertama, Bandung-Banjaran-Pangalengan-Cisanti. Kedua, Bandung-Ciparay-Pacet-Cisanti. Saya memilih jalur kedua (hitung-hitung melanjutkan Gowes-Citarum I yang terputus sampai Ciparay). Menurut Google maps, jarak tempuh jalur ini kira-kira 45 kilometer. Jadi, dalam perjalanan pulang pergi, saya mengayuh sepeda sepanjang kurang lebih 90 kilometer. Lumayan ….

Saya merasa bagian tersulit dalam perjalanan seperti ini adalah mengatasi waswas yang melemahkan tekad. Sebelum berangkat, biasanya terdengar bisikan suara hati seperti: Kalau nanti hujan, bagaimana? Kalau kesasar, bagaimana? Apalagi, ibu saya bertanya seakan tidak percaya, “Mau ke Pangalengan naik sepeda sendirian?”

“Iya,” jawab saya mantap.

*

Minggu pagi itu, saya kayuh sepeda dengan penuh semangat. Saya perhatikan langit mendung dan jalanan mulai ramai oleh orang-orang lari pagi. Di Dayeuhkolot, laju sepeda mulai terhambat oleh perbaikan jalan di beberapa titik. Perbaikan di salah satu lajur membuat kendaraan dari dua arah harus berbagi giliran menggunakan lajur tersisa.

Akan tetapi, pada umumnya lalu lintas masih sepi. Sepanjang jalan Dayeuhkolot­–Ciparay, pemandangan terasa menjemukan berupa dereten pertokoan. Mata sedikit terhibur oleh ragam gaya mojang-mojang Bandung yang lari pagi. Beberapa kali saya bertegur sapa dengan sesama pesepeda yang berlawanan arah alias menuju Bandung. Mungkin mereka hendak ke Car Free Day di Dago atau Buahbatu.

Tepat di Terminal Ciparay, saya berbelok ke kanan, memasuki Jalan Raya Ciparay–Pacet. Tidak selang beberapa lama, pemandangan mulai berubah. Hamparan sawah di pinggir jalan dan deretan gunung terlihat tidak terlalu jauh (meskipun tidak bisa dibilang dekat). Satu yang saya kenal, Gunung Malabar.

Indahnya pemandangan berbanding terbalik dengan mulusnya permukaan jalan. Roda mulai menggilas aspal berlubang dan tanah berbatu. Meskipun begitu, ada juga jalan yang dibeton. Ketika saya bertanya arah, seorang laki-laki menyarankan agar saya menaikkan sepeda ke mobil pikap karena selain berbatu, jalan juga menanjak. Namun, di mana letak kesenangannya kalau perjalanan ini dibikin mudah dengan menaikkan sepeda ke mobil?

“Tapi kalau masih muda sih enggak apa-apa. Coba saja,” kata laki-laki itu dalam bahasa Sunda.

Seiring terkurasnya tenaga, saya pun menyadari Jalan Raya Pacet dari arah Ciparay ini adalah tanjakan yang kemiringannya tidak seberapa, tetapi panjang. Namun, dalam bersepeda tanjakan berarti pelajaran tentang ketabahan. Saya coba mengayuh sepeda sesuai dengan kemampuan. Jika tidak kuat, saya turun, menggenggam stang sepeda, dan menuntunnya. Biarkan motor, mobil, dan truk menyusul. Saya membayangkan diri sendiri sebagai Dipati Ukur atau Bujangga Manik yang konon pernah mencari sunyi juga ke hulu Citarum.

Di pinggir jalan yang membelah kebun sayuran, saya menepi untuk ketiga kalinya di sebuah warung dari papan. Segelas kopi hitam panas dipesan untuk mengisi ulang bahan bakar dengkul. Sebenarnya saya berharap warung ini menyediakan ubi atau singkong rebus. Padahal, kira-kira satu jam sebelumnya, saya menyantap semangkuk bubur ayam. Sampai di sini, saya sudah bersepeda yang diselingi berjalan selama kurang lebih empat jam.

Mungkin, satu-satunya kesalahan saya dalam perjalanan kali ini adalah menggunakan sepeda gunung single speed ke tempat yang terletak di ketinggian sekitar 1.800 meter di atas permukaan laut. Akibatnya, saat kekuatan dengkul mencapai batas sehingga tidak sanggup lagi mengayuh, sepeda malah menjadi beban. Sepanjang empat kilometer terakhir dengan tanjakan panjang yang seolah tiada akhir, mau tidak mau saya lebih banyak jalan kaki. Keadaan ini membuat waktu tempuh meleset sekitar satu jam dari perkiraan awal. Namun, saya menghibur diri sendiri dan sepeda, “Pulangnya kita downhill sampai bego.”

“Selamat datang di Desa Tarumajaya.” Sebuah tugu penanda batas wilayah menyampaikan pesan bahwa Situ Cisanti semakin dekat. Secara administratif, danau ini terletak di Kampung Pejaten (yang mengingatkan saya akan Pejaten Village, sebuah mal di Jakarta Selatan), Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung. Sementara itu, pengelolaannya diserahkan kepada Perhutani.

Katanya sih setiap pengunjung objek wisata Situ Cisanti harus membayar retribusi. Namun, mungkin karena saya memakai sepeda, jadi saya boleh masuk cuma-cuma. Setelah menitipkan sepeda kepada seorang ibu pemilik satu-satunya warung di gerbang, saya segera menuruni anak tangga.

Hulu Citarum di depan mata. Gunung-gunung gagah memagarinya, seperti para pengawal bertampang galak menjaga putri raja. Pemandangannya mungkin biasa-biasa saja. Nilai penting Cisanti justru karena danau ini adalah tempat Citarum berasal yang kemudian sungai itu menjadi sumber air dan listrik di Pulau Jawa dan Bali.

Selain suara tawa riang sejumlah anak yang berenang di tepian danau, burung, dan serangga, hampir tidak ada suara lain di Cisanti. Mata yang sehari-hari terpapar radiasi layar komputer, siang itu dimanjakan oleh beningnya air dan hijaunya hutan. Tiga orang lelaki mengapung di permukaan air dengan bantuan ban dalam truk atau mobil. Dua orang duduk di ban untuk mengumpulkan lumut, sementara sisanya memancing dengan joran sederhana sambil berdiri.

Sayangnya, saya hanya bisa menepi di kesunyian Cisanti selama satu jam. Saya harus segera kembali agar dapat sampai di rumah sebelum magrib (dan ternyata saya sampai rumah sebelum isya). Jika ada kesempatan berkunjung lagi, sebaiknya pada hari Sabtu dengan berbekal sleeping bag sehingga saya bisa bermalam atau melanjutkan perjalanan ke pemandian air panas Cibolang. Selain itu, sebaiknya saya menggunakan sepeda multispeed agar puas mengayuh.

Salam,

Moh. Sidik Nugraha

Dalam sebuah naskah tentang perbankan, saya membaca kalimat yang berbunyi:

Di lain pihak, kesediaan konsumen membayar marjin yang lebih tinggi dapat disebabkan karena sulit untuk memperoleh kredit/pembiayaan dari bank lain. (kalimat pertama)

Pada kesempatan lain, dalam sebuah naskah penelitian mengenai batu gamping, saya menemukan kalimat yang berbunyi:

Perkiraan terbaru menyebutkan bahwa lumpur karbonat berasal dari penghancuran organisme yang disebabkan oleh abrasi dan dekomposisi butiran karbonat yang lebih kasar, seperti cangkang atau kerangka organisme. (kalimat kedua)

Ini menarik, kata saya dalam hati. Ada yang menggunakan “disebabkan karena”, tetapi ada juga yang menulis “disebabkan oleh”.

Ketika membaca kalimat pertama, saya merasa ada yang kurang pas. Ini bukan perkara benar atau salah. Perasaan yang sama muncul ketika mendengar seorang tokoh masyarakat memberikan sambutan sebelum kerja bakti. Dia mengatakan, “Kita gotong royong membersihkan sungai agar supaya lingkungan kita bebas banjir.”

Bagi saya, penggunaan “disebabkan karena” dan “agar supaya” secara bersamaan dalam satu kalimat seperti keputusan seorang pelatih memainkan dua playmaker, misalnya Andrea Pirlo dan Xavi Hernandez, sekaligus. Memang tidak salah, tetapi apa gunanya?

Sebelum memilih untuk menggunakan “karena” atau “disebabkan”, penutur perlu mengetahui fungsi kedua kata itu dalam kalimat.

Saya penasaran untuk mengetahui lebih jauh. Saya mencari rujukan yang mudah dan cepat saja, yaitu KBBI Edisi Kelima yang dapat diakses secara daring. Rasanya tidak perlu disebutkan KBBI itu singkatan dari “Kamus Besar Bahasa Indonesia” dan “daring” itu memiliki kepanjangan “dalam jaringan” yang merupakan padanan kata “online”.

Namun, modem internet saya sedang diisi ulang daya sehingga tidak aktif. Ada yang nyeletuk, ribet banget sih tinggal nulis “di-charge” aja, pake “diisi ulang daya” segala.

Sambil menunggu modem (tanpa Bovary. Ya elah, Bovary mah madam bukan modem) berdaya kembali, saya buka-buka buku “Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia”. Di halaman 326, saya membaca kaidah tentang kalimat majemuk bertingkat yang menyatakan hubungan penyebaban. Saya tidak akan menjelaskan seperti apa kaidahnya di sini karena yakin pembaca sudah tahu mengenai anak kalimat yang menyatakan sebab atau alasan terjadinya sesuatu yang dinyatakan dalam induk kalimat dengan menggunakan kata hubung “karena” dan “sebab”.

Dengan pertimbangan itu, saya mengubah kalimat pertama menjadi:

Di lain pihak, kesediaan konsumen membayar marjin (menurut KBBI “margin”) yang lebih tinggi karena mereka sulit untuk memperoleh kredit/pembiayaan dari bank lain.

Kalau ditulis dengan lebih lugas, kalimat itu akan menjadi:

Di lain pihak, konsumen bersedia membayar marjin yang lebih tinggi karena sulit memperoleh kredit/pembiayaan dari bank lain.

Secara pribadi, saya menghindari penggunaan “dikarenakan” sebab tidak ada bentuk aktif “mengarenakan”.

Lalu,  bagaimana contoh penggunaan “disebabkan”? Seperti diketahui, itu merupakan kata kerja yang menjadi predikat dalam sebuah kalimat.

Kalimat kedua bisa dijadikan contoh yang memadai. Sebagai tambahan, belum lama ini, saya membaca terjemahan Surah Ar-Rum ayat 41 yang berbunyi:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia.

Kalau dirasa pas, “oleh” bisa dihapus. Namun, keberadaan kata depan itu berfungsi untuk memperjelas frasa nominal setelahnya sebagai pelaku atau sesuatu yang dianggap sebagai pelaku alias penyebab.

Tidak hanya sebagai kata penghubung, “karena” juga dapat digunakan sebagai kata depan terjemahan ayat itu menjadi:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan tangan manusia.

Tanpa bermaksud untuk baper atau curcol, saya menutup tulisan ini dengan sebuah lirik lagu dangdut yang menggunakan “karena” sebagai kata depan dan dinyanyikan oleh Evie Tamala.

Ku menangis/menangisku karena rindu/

Semoga bermanfaat,

Moh. Sidik Nugraha

 

image0242

NYALIKU menciut gara-gara seorang lelaki bertanya dalam bahasa Sunda, “Mau apa ke Malela sendirian? Itu kan di tengah hutan?”

Bukan kata-katanya itu yang menyiram harapan, tapi dia menatap mataku, menyelidik ke dalam hati. Bagiku, bahasa tubuhnya terasa seperti meremehkan dan menyampaikan pesan, kecil-kecil kok nekat. Apakah berbekal makanan minuman secukupnya, baju ganti, dan sleeping bag bisa dibilang nekat? Menurutku sih bekal itu cukup.

“Penasaran saja, Pak, pengin lihat Niagara Kecil,” jawabku, juga dalam bahasa Sunda, “kalau nanti tidak berani, tinggal balik lagi.”

Selama kita percaya Tuhan dan percaya masih banyak orang baik yang rela menolong kita tanpa pamrih, jangan takut. Lanjutkan perjalanan.Bisik suara hati memompa nyali. Dalam kondisi seperti itu, kita hanya suara hati yang perlu kita dengarkan.

Asap rokok terperangkap dalam elf yang membawa penumpang dari Cililin ke Bunijaya, Kabupaten Bandung Barat. Aku dan lelaki itu tidak merokok. Kami duduk di bangku paling belakang dengan seorang penumpang lain, lelaki. Asap berasal dari dua pemuda  yang duduk di bangku tengah. Sebenarnya, elf itu berangkat dari terminal asal Ciroyom, Kota Bandung dan berhenti sebentar di Terminal Cililin, lalu melanjutkan perjalanan ke tujuan akhir Bunijaya.

Pukul 10.53, elf berangkat dari Cililin. Itu artinya lebih kurang sudah limajam perjalanan sejak aku berangkat dari Lebakbulus, Jakarta dan transit di Pasirkoja, Bandung. Dari Pasirkoja, aku menumpang bus 3/4 jurusan Cileunyi-Cililin. Dengan kata lain, cukup banyak pilihan kendaraan umum berupa elf dan bus 3/4 ke Bunijaya, Gununghalu dari Bandung: langsung dari Ciroyom tanpa transit, dari Cileunyi dengan transit di Cililin, dari Leuwipanjang dengan transit di Sindangkerta.

“Kira-kira tiga jam. Itu juga kalau elf tidak ngetem,” kata seorang lelaki lain yang duduk di sebelah kananku ketika ditanya berapa lama perjalanan dari Cililin ke Bunijaya.

Sekadar menegaskan betapa masih belum dikenalnya Curug Malelasebagai objek wisata, preman yang nongkrong di Terminal Cililin saja tidak mengetahui di mana air terjun itu. Ketika ditanya, mereka malah mengira aku hendak ke Curug Sawer di Cililin yang lebih terkenal. Baru setelah aku menyebutkan nama kecamatan tempat Malela berada, mereka menjawab,

“Oh Rongga … kamu nyeberang, terus naik elf ke Bunijaya,” kata salah seorang dari mereka yang sedang duduk di dekat pintu WC umum terminal.

Jangan membayangkan Terminal Cililin sebagai terminal besar yang menampung bus antarkota antarpropinsi. Menurut perkiraanku, luas terminal itu hanyalah seperempat Terminal Lebakbulus. Fungsi utamanya adalah menampung kendaraan umum antarkecamatan.

Tadinya, aku mengharapkan bertemu orang lain yang akan berkunjung ke Malela. Di Cililin, harapan itu sirna. Aku benar-benar sendiri ke sana. Tapi, aku bertekad sekali menentukan tujuan, pantang menyerah sebelum sampai. Pantatku mulai panas dan pinggulku mulai pegal karena duduk terlalu lama. Belum lagi, jalan yang dilalui elf ini bisa dikategorikan aborsif alias berpotensi mengakibatkan keguguran jika ada perempuan hamil yang menumpang.

Di depan elf, sebuah Toyota Xenia merah hati bergerak hati-hati, seperti meniti jalan yang kadang mulus, kadang bergelombang, dan kadang berlubang. Penumpang semakin berkurang. Lima orang yang tersisa. Asap rokok digantikan dengan udara dingin-menyegarkan ketika kami melewati perkebunan teh yang dikelola oleh PTPN VIII Perkebunan Montaya.

Jam di ponselku menunjukkan pukul 12.20 ketika elf berhenti di pertigaan di mana siswa-siswi bergerombol. Aku perhatikan sebuah plang putih di pertigaan itu bertuliskan SMPN 2 Gununghalu dan SMPN 1 Gununghalu. Hanya plang, di mana letak kedua sekolah itu, aku tidak melihatnya dari mulut pertigaan. Tidak sampai lima belas menit kemudian, elf sampai di Terminal Bunijaya. Sebenarnya, tidak jelas apakah ini terminal atau sekadar pangkalan ojek karena kendaraan yang ada di sana waktu itu hanya elf yang kutumpangi dan sekitar lima ojek motor.

Satu di antara ojek itu mengantarku melewati perkampungan penduduk dan perkebunan teh sebelum akhirnya menyerah di sebuah tanjakan terjal jalan berbatu. Mau tak mau, aku pun harus berjalan sekitar dua kilometer setelah membayar sejumlah uang yang kemudian kuketahui 50 ribu terlalu mahal karena biasanya ongkos ojek di sana hanya 25 ribu. Itu belum seberapa. Rupanya, si tukang ojek yang mengaku bernama Yudi itu memberikan arah jalan yang memutar ke Curug Malela. Untunglah setelah setengah perjalanan atau kira-kira 30 menit berjalan kaki, aku bertemu seorang pemuda untuk bertanya.

“Benar kan ini jalan ke Malela?” aku bertanya dalam bahasa Sunda.

“Bukan,” katanya singkat menggunakan bahasa Sunda juga.

Mungkin ketika mendengar jawaban itu, wajahku memucat. Aku tak tahu. Yang pasti, aku merasa terguncang karena mengetahui aku nyasar.

 

“Lewat sini juga bisa, tapi jauh,” tambah pemuda itu.

Harapanku kembali menyala, dan lebih bersinar setelah dia memberi tahu jalan pintas ke air terjun. “Lewat kampung tengah,” katanya sambil menunjuk perkampungan di samping bawah jalan.

Setelah dua kali bertanya, aku bertemu Imat, pemuda berumur 25 tahun yang mengantarku melewati pematang sawah sampai ke Curug Malela. Semangatku semakin berkobar ketika aku melihat Malela dari pematang sawah. Dari kejauhan, air terjun yang oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Dede Yusuf, dinamai “Niagara Kecil” itu seperti helai-helai benang yang menjuntai di ujung taplak meja berwarna hijau.

Sebelum turun ke curug, aku bertemu dan berkenalan dengan empat pemuda di sebuah saung. Salah satu dari mereka bernama Unang Supandi, 40 tahun. Dia adalah Ketua Parmala (Pemuda Pariwisata Malela), organisasi swadaya yang berinisiatif mengelola objek wisata CurugMalela. Namun, mereka bukan sekelompok pemuda yang memungut biaya masuk ke curug karena memang tidak ada loket masuk ke sana, melainkan bertujuan mengawasi dan menjaga keselamatan para pengunjung.

“Kemarin ada tiga orang yang nyasar. Kami cari dan baru ketemu jam sebelas malam,” cerita Pak Unang yang juga berprofesi sebagai guru olahraga di SDN 1 Cicadas dan SMPN Satu Atap Cicadas itu.

“Memang benar-benar Niagara Kecil,” kataku dalam hati ketika menginjakkan kaki di batu-batu dekat air terjun yang lebar di tengah lembah itu. Tak sia-sia pantat panas, pinggul pegal akibat duduk berjam-jam, terjebak macet di beberapa pasar desa. Tak percuma kaki menempuh jalan berbatu dan jalan tanah setapak.  Gemuruh air terjun, udara sejuk di tengah lembah, nyanyian alam liar membayar lunas semua itu. Terjawab sudah rasa kepenasaranku pada air terjun di perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat itu.

Ketika itu tinggal aku sendiri di air terjun karena serombongan pemuda-pemudi baru saja beranjak pulang. Meski baru satu jam di sana, aku harus kembali ke saung pengawas dan bertemu Pak Unang lagi yang mengizinkanku menumpang tidur semalam di rumahnya yang berjarak sekitar lima kilometer dari curug.

memandangi-malela

Pada Sabtu 1 Mei 2010 itu, aku merasakan bagaimana rasanya menginap di hotel bintang seribu. Bintang sebanyak itu tidak berlebihan diberikan mengingat keikhlasan pelayanan Pak Unang sekeluarga kepadaku yang tidak mereka kenal sebelumnya. Bahkan mereka tidak menanyakan atau memintaku menunjukkan kartu tanda pengenal. Mereka hanya percaya dan ikhlas. Dan yang tak kalah mengesankan adalah dua fasilitas di hotel bintang seribu itu: mandi di tengah sawah dengan air yang dialirkan menggunakan bambu, sementara badan kita hanya ditutupi dinding dari karung goni setinggi pinggang serta makan ikan mas bunting goreng yang mendadak dipancing dari kolam. Mantap!

kita-semua-bersaudara

Di sebelah kanan awal jalan yang menurun, bangunan itu berada. Di gerbangnya, tampak seorang lelaki yang berperawakan mirip Babeh Naim di sinetron Tukang Ojek Pengkolan, tetapi sedikit lebih gemuk.  Sehari-hari, dia mengenakan kemeja putih dan celana panjang biru. Dia berkemeja batik dan bercelana yang senada hanya Kamis dan Jumat.

Jalan itu dinamai Jalan Menara dan bangunan itu merupakan Sekolah Menengah Pertama Negeri 218 Jakarta. Lelaki itu, entah siapa namanya, tetapi supaya mudah sebut saja Pak Satpam.  Pagi ini, seperti juga hari sebelum dan mungkin selanjutnya, dia berdiri di gerbang yang pagarnya dibuka lebar-lebar. Dia menyambut kedatangan para siswa dan guru SMP itu.

Lebar Jalan Menara itu hanya cukup untuk dilalui sebuah mobil perkotaan (city car) dan menghubungkan Jalan Jatipadang Poncol dengan Jalan Jatipadang Raya. Di ujung turunan melintang sebuah kali. Saya kira hari baru beranjak tidak sampai sepuluh menit dari pukul enam pagi. Beberapa orang siswa datang. Sebagian diantarkan dengan motor, sedangkan sebagian lagi berjalan kaki dari arah yang berlawanan dengan saya yang mengayuh sepeda bermerek Federal, yang catnya terkelupas di beberapa bagian, dari arah Poncol.

Di seberang SMP itu, terdapat tempat penampungan barang bekas. Tidak jauh dari sana, dua lelaki duduk di bangku panjang di sebuah warung. Di depan mereka terhidang kopi yang mungkin masih panas, tetapi saya tidak melihat asap mengepul dari bibir gelas. Saya juga tidak dapat membaca apa yang dipikirkan orang-orang yang sedang nongkrong itu. Namun, bukan urusan saya membaca pikiran orang, padahal pikiran sendiri saja sulit dimengerti.

Laju besi tua, yang saya namai si Buluk itu, bertambah kencang. Jika saja itu bukan jalan yang merupakan bagian dari permukiman padat, saya tidak ingin menarik tuas rem sepeda yang menjadi kendaraan rutin ke kantor. Turunan adalah momentum yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk menghadapi tanjakan, kata orang tentang ilmu bersepeda.

Sementara tangan kanan saya menarik tuas rem yang memperlambat perputaran roda belakang sepeda, saya melihat para siswa SMP itu mencium, entah tulus atau tidak, tangan kanan Pak Satpam. Bagi sebagian orang, mungkin ini dianggap kebiasaan kolot. Apalagi, kebiasaan menghormati orang yang dituakan dan menghargai teman terasa semakin luntur jika mencermati ujaran-ujaran di media sosial akhir-akhir ini. Saya membayangkan seandainya menjadi tangan kanan itu, apa yang saya rasakan saat dimuliakan oleh ratusan siswa itu? Mungkin biasa-biasa saja. Namun, kemungkinan besar saya akan berkata, “Akulah tangan kanan paling bahagia di dunia.”

Karena siswanya berasal dari berbagai kalangan sosial-budaya-ekonomi-agama, sekolah negeri berada di barisan terdepan dalam membentuk pemahaman tentang rakyat Indonesia yang berbeda-beda, tetapi tetap saudara sebangsa.  Pesan persaudaraan semakin tegas semenjak ada spanduk bertuliskan “kita semua bersaudara” di SMP Negeri 218 Jakarta yang sudah dipasang kurang lebih dua pekan. Syukurlah, nilai kebaikan itu masih dipelihara di sana.

Salam Indonesia damai,

Moh. Sidik Nugraha

Gagalnya Pentas Seni Mereka (novel remaja)

 

Suatu Siang di Citarum Purba

November 15, 2016

sangyang-poek

Bau kemenyan tercium ketika saya sampai di depan Gua Sangyang Poek. Sepertinya, Dewa Kegelapan penunggu tempat itu menyambut saya dan berkata, “Selamat datang! Silakan dihirup dan dinikmati.”

Ah, andai bukan kemenyan yang ditawarkan sang penunggu tak kasatmata itu. Jika saja dia menyuguhi saya dengan shisha rasa stroberi seperti di sebuah restoran Timur Tengah di bilangan Kemang Jakarta Selatan, tentu saya dengan senang hati menerimanya sambil melepas lelah setelah melahap jalur setapak yang terjal. Kalau kemenyan sih, enggak deh. Terima kasih, Sangyang.

Gua Sangyang Poek atau Dewa Kegelapan terletak di belakang Power House Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Saguling. Sebagian orang menyebut wilayah tempat gua itu berada dengan julukan Citarum Purba.

Saya bersepeda ke dan berenang di bagian Sungai Citarum yang masih menyisakan sedikit kemurniannya itu. Saya berangkat dari rumah di Padalarang pada pukul tujuh tepat. Karena jarak rumah dan tujuan cukup dekat, hanya sekitar 24 kilometer, saya perkirakan pukul 12 siang saya sudah sampai lagi di rumah. Namun, saya melupakan satu hal: jika bersepeda, saya terbiasa memilih jalur alternatif—sekadar untuk menghindari penggunaan kata “nyasar”. Karena kebiasaan ini, yang tadinya berencana sudah istirahat di rumah sebelum azan zuhur, saya malah baru sampai kembali hampir bertepatan dengan azan isya.

Dari Padalarang, saya mengayuh sepeda perlahan. Saya tidak ingin menguras tenaga di awal dengan ngebut di tanjakan panjang sampai Cipatat. Santai saja. Toh, tujuan perjalanan ini untuk bersenang-senang, bukan berpacu dengan waktu. Satu, dua, tiga truk sampah dan bus jurusan Bandung-Sukabumi via Cianjur mendahului saya. Tidak usahlah saya menyebut berapa banyak motor dan mobil pribadi yang menyusul saya. Sampailah saya di pertigaan Rajamandala-Saguling. Saya pun membelokkan sepeda ke kiri.

Sekitar 30 menit kemudian, setelah melalui jalan aspal yang bervariasi menanjak dan menurun, saya menghentikan sepeda di pos keamanan pertama. Saya memeriksa rem depan sepeda yang berdecit ketika roda berputar. Saya mengelap cakram rem dengan spons basah, lalu melihat peta kawasan PLTA Saguling di depan pos.

Mungkin karena bersepeda, saya tidak diperiksa oleh petugas seperti pengendara motor dan mobil. Saya pun segera melewati portal.

“Anda memasuki area obyek vital nasional (Obvitnas).” Sebuah plang putih bertuliskan huruf kapital hitam dan merah memberi tahu pengunjung bahwa wilayah yang dikunjungi bukan tempat sembarangan.

Di sebuah pertigaan, tempat PT Indonesia Power Saguling berkantor, saya sempat bingung menentukan arah. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang bisa saya tanya. Saya lantas memutuskan untuk belok kanan ke jalan tanah kering, sedangkan jalan ke kiri beraspal mulus. Rupanya, saya memasuki permukiman penduduk. Di sebelah kiri saya, Citarum mengalir deras dan menyebarkan bau yang seperti belerang, tapi konon itu bau bermacam limbah yang mencemari sungai.

Di tengah kayuhan menyusuri jalan tanah kering dan berdebu, saya tergoda untuk menyeberangi Citarum dengan jembatan gantung yang berkarat dan berlubang di beberapa bagian. Jembatan yang lebarnya hanya cukup untuk satu motor itu bergoyang-goyang ketika saya dan beberapa orang lewat di atasnya. Jika tadi saya berada di Kabupaten Bandung Barat, sekarang saya berada di seberang yang masuk ke wilayah Kabupaten Cianjur.

Setelah menyeberang, saya sempat berputar-putar tak tentu arah. Pokoknya, selama arus deras masih terdengar dan bau limbah masih tercium, saya masih berada di sekitar Citarum. Boleh tersesat, asalkan jangan terlalu jauh, pikir saya. Namun, karena takut dianggap yang tidak-tidak oleh penduduk setempat, akhirnya saya menyeberang kembali dan mencari jalan yang benar ke Citarum Purba.

Jika tersesat, saya selalu mengandalkan dua alat navigasi: suara hati dan GPS (Gangguin Penduduk Setempat). Makanya, ketika melihat seorang perempuan menjemur padi di depan kantor Indonesia Power, saya langsung menghampirinya dan menanyakan arah ke Sangyang Poek. Berbekal petunjuk dari perempuan itu, saya mengayuh sepeda di jalan aspal menanjak dan tidak lama kemudian, saya sampai di depan Power House.

Setelah meminta izin dan bertanya kepada petugas keamanan di sana, saya segera beranjak ke gerbang tak resmi menuju Citarum Purba. Di depan saya menjulang sepasang pipa pesat raksasa berwarna kuning hampir oranye. Lalu, saya menuruni jalan setapak berbatu yang dijejeri semak kering.

jalan-setapak

Jalan ini seperti lorong waktu. Sebelumnya, saya berada di bangunan instalasi canggih buah kepintaran manusia. Kini, saya memandang haru mahakarya Sang Maha Pencipta. Batu-batu besar, serangga-serangga air, ikan-ikan berenang bebas, serta air bersih, jernih, dan bening. Sulit dipercaya jika mengingat ini adalah bagian Citarum yang dianggap sebagai sungai paling tercemar di dunia. Ini ajaib. Kemurnian alam yang berjarak hanya beberapa langkah dari aliran sungai yang busuk.

Saya segera menceburkan diri bersama sepeda. Sementara bermain air, saya mengingat-ingat bagaimana Citarum Purba ini terpisah dari arus utamanya. Usut punya usut, ini adalah sungai mati yang tercipta karena aliran Citarum dialihkan oleh Bendungan Saguling yang menyalurkan air berlimbah ke pipa pesat.

Sebagai sungai mati, Citarum Purba semestinya kering. Namun, karena mendapat pasokan air dari anak sungai yang bermuara padanya, sepenggal aliran yang terputus dari hulunya ini tetap berair dan menjelma lembah bersih tersembunyi.

Panas matahari semakin terasa menyengat di kulit karena waktu itu musim kemarau. Saya bisa lupa waktu jika sedang main air—apalagi di tempat seperti Citarum Purba ini. Namun, saya harus melanjutkan perjalanan ke Gua Sangyang Poek sebagai garis finish kali ini. Disertai harapan secuil keajaiban yang indah ini tetap terjaga sampai lama, saya berkata kepada diri sendiri, saya dan sepeda baru saja menemukan tempat renang favorit: Citarum Purba.

sidik

 

 

Bukan kata “pake” atau “pakai”, saya menganggap ucapan Ahok di Kepulauan Seribu itu bermasalah karena ketiadaan objek pelaku dalam kalimat pasif transitif.

Seandainya dia mengatakan:

Dibohongin oknum umat Islam pake surat Al-Maidah 51.

Dalam ragam baku tertulis, kalimat di atas mungkin akan menjadi:

Bapak dan Ibu jangan mau dibohongi oknum umat Islam dengan surah Al-Maidah ayat 51 demi kepentingan politik mereka.

Atau:

Bapak dan Ibu jangan mau dibohongi oknum umat Islam yang menggunakan surah Al-Maidah ayat 51 demi kepentingan politik mereka.

Kalau ngomong begitu, agaknya Ahok tidak akan dianggap menistakan ayat suci Alquran dan agama Islam. Dengan adanya objek pelaku, makna kalimat itu menjadi jelas sebagai imbauan dari calon Gubernur DKI Jakarta yang satu ini agar hadirin waspada terhadap kebohongan oknum.

Apa sih oknum? Saya dan Pembaca kemungkinan besar sudah sama-sama memahami artinya dalam penggunaan sehari-hari. Kata itu sering dipilih sebagai cara aman untuk menunjuk orang yang tidak baik dari kelompok tertentu.

Oknum ada di hampir semua sendi kehidupan. Sebut saja, oknum pejabat, oknum tentara, oknum polisi, oknum pendukung kesebelasan sepak bola, oknum wartawan, oknum karyawan, oknum guru. Bagi yang belum disebutkan, tolong unjuk tangan.

Jika menggunakan frasa “oknum umat Islam”, Ahok, sebagai penutur, menganggap sebagian besar pemeluk agama Islam baik, tetapi ada segelintir yang tidak. Bagian yang sangat sedikit itu rela menggunakan ayat suci Alquran demi kepentingan yang sempit (bagi saya, salah satunya nafsu untuk berkuasa).

Apakah ada oknum umat Islam yang berbohong dengan menggunakan ayat suci? Sepertinya ada dan saya menduga orang semacam ini disindir oleh Allah sebagai pihak yang menjual ayat-ayat-Nya dengan harga murah.

Contoh lain kalimat pasif dengan objek pelaku (anggap saja ini dikatakan oleh korban penipuan):

Kamu jangan mau dibohongin oknum guru spiritual pake surat Al-Fatihah buat gandain duit.

Atau:

Massa Front Pembela Islam tidak mau dihasut oleh oknum pengunjuk rasa yang memancing kericuhan.   

Dengan menyisipkan kata “oknum” dalam ucapannya di Kepulauan Seribu, Ahok tinggal menunjuk siapa orang yang dimaksud jika ada yang meminta penjelasan. Pihak yang akan tersinggung hanya sedikit, yaitu orang yang ditunjuk serta segelintir pengikutnya. Paling yang mencak-mencak cuma lawan politik Ahok dan keadaan tidak akan segaduh ini, mungkin.

Salam damai,

Moh. Sidik Nugraha

Gagalnya Pentas Seni Mereka (novel)

https://www.getscoop.com/id/buku/gagalnya-pentas-seni-mereka

Aku Pandai Bahasa Indonesia (catatan penyuntingan)

https://www.getscoop.com/id/buku/aku-pandai-bahasa-indonesia

Islam Bersinar di Leicester

September 28, 2016

Pada menit ke-24 lebih 38 detik, Marc Albrighton mengirim umpan silang lambung dari sayap kiri ke sisi kanan lapangan. Riyad Mahrez menerima bola di dekat kotak penalti FC Porto. Tanpa berlama-lama, Mahrez melayangkan umpan matang ke mulut gawang yang dijaga kiper kawakan Iker Casillas. Seperti buaya lapar dilempari daging, Jamie Vardy, striker utama Leicester City, meloncat dan menyundul, tetapi luput. Untung saja di sana ada Islam Slimani. Sambil menjatuhkan diri ke depan, dia mencetak gol dengan kepala.

Sontak, King Power Stadium pun bergemuruh. Dalam tayangan di layar kaca, tampak seorang anak laki-laki berteriak dan sangat semringah. Wajar saja jika ribuan pendukung Leicester City begitu gembira. Gol yang diciptakan oleh Islam Slimani itu merupakan gol kandang pertama Leicester dalam ajang Liga Champions.

“Lho, saya kira ini artikel tentang perkembangan agama Islam di Kota Leicester Inggris, tapi ternyata tentang pemain sepak bola” mungkin ada pembaca yang berkata seperti itu.

Awalnya, saya ingin menulis judul “Islam sang Jagal Naga” karena memang itulah julukan yang disematkan bagi Islam Slimani. Namun, setelah mempertimbangkan dampak yang mungkin timbul, saya memilih judul dengan diksi yang positif, seperti novel religius yang laris manis.

Kok bisa-bisanya Islam Slimani dijuluki “Jagal Naga”? Kita perlu menengok beberapa tahun ke belakang. Sebelum bergabung dengan Leicester City, pemain berkebangsaan Aljazair ini bermain di Sporting Lisbon. Di klub itu, Islam selalu menyumbangkan gol ketika timnya mengalahkan FC Porto di Liga Portugal. Dia menceploskan lima gol dalam empat pertandingan yang mempertemukan dua kesebelasan pada musim 2014/2015 dan 2015/2016.

Berkat gol-golnya itu, Claudio Ranieri merasa perlu meminta saran dari Islam Slimani sebelum pertandingan Liga Champions antara Leicester City dan FC Porto yang dijuluki “Naga” dini hari tadi (28/9/2016).

“Saya sangat memercayai Slimani karena dia sering mencetak gol ke gawang Porto ketika dia masih menjadi pemain Sporting. Saya berbicara kepada Riyad dan Islam. Mereka membuat umpan dan menciptakan gol,” kata Claudio Ranieri, seperti dikutip dari situs The Telegraph.

Sebetulnya, Ranieri memberi waktu bagi Islam Slimani untuk menyesuaikan diri dengan gaya permainan Leicester City. Maklum saja, dia baru tiga pekan bergabung dengan Jamie Vardy dan kawan-kawan. Namun, ternyata dia langsung nyetel dengan kesebelasan yang menjuarai Liga Inggris musim 2015/2016 itu.

Di klub barunya, Islam Slimani seperti ikan nyemplung ke air. Dalam laga pertamanya bersama Leicester City di Liga Inggris, Islam Slimani langsung mencetak dua gol dan mengantarkan timnya menang telak 3-0 atas Burnley. Ketika itu, dia pun menaklukkan gawang yang dijaga Tom Heaton dengan sundulan, seperti dini hari tadi. Sampai saat ini, tampaknya tidak sia-sia klub sekecil Leicester menggelontorkan dana sebesar 29,7 juta poundsterling atau sekitar 475 miliar rupiah untuk memboyong pemain kelahiran Aljazair 28 tahun lalu itu.

Meskipun berstatus juara salah satu liga domestik paling bergengsi di dunia, Leicester City tetaplah anak bawang di Liga Champions. Sebagai pelatih, Claudio Ranieri sangat menyadari pentingnya rotasi pemain untuk dapat berlaga di beberapa kompetisi. Walaupun tidak jadi juara, sekurang-kurangnya, pencapaian Leicester musim ini tidak jeblok-jeblok amat. Oleh karena itu, dia membeli pemain nonbintang yang sudah jadi, seperti Islam Slimani, alih-alih mendatangkan pemain muda berbakat cemerlang, tetapi butuh waktu lama untuk dibina.

Alhasil, Islam Slimani langsung memberikan sumbangsih berharga dalam dua pertandingan. Dengan tiga gol sundulannya, dia membuktikan diri dapat menjadi pelengkap Jamie Vardy yang kurang tinggi. Kehadiran Riyad Mahrez pun tidak boleh dianggap remeh. Selain sama-sama orang Aljazair, umpan matang darinya semakin memudahkan Islam mendulang gol dan semakin bersinar di Leicester City.[]

Sumber tulisan: The Telegraph, Independent, Leicester Mercury, dan Sky Sports

Sayangnya, dalam penentuan ketiga pasangan calon itu, peran tokoh politik tua masih sangat dominan. Ada Megawati, SBY, dan Prabowo. Padahal, kemenangan ditentukan oleh generasi milenial.

Menjelang batas waktu pendaftaran calon pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta untuk Pilkada 2017, Partai Alay Nusantara (Panu) bersama beberapa elemen masyarakat membentuk Koalisi Kemesraan (selanjutnya kadang disebut Komes). Koalisi ini dibangun untuk menjadi penyeimbang bagi Koalisi Kebangsaan dan Koalisi Kekeluargaan.

Apalah artinya berkeluarga dan berbangsa jika tanpa kemesraan? Apa gunanya pesta demokrasi kalau akhirnya hanya melahirkan barisan sakit hati? Bukankah itu yang terjadi setelah pemilihan presiden yang mempertarungkan Jokowi dan Prabowo pada 2014? Kegalauan itulah yang mendorong kami memutuskan untuk membangun koalisi berbasis cinta ini.

Kami menilai, Jakarta perlu dipimpin oleh sosok yang mengedepankan kemesraan. Bayangkan saja, ketika melakukan penggusuran, dia akan bernyanyi atau berpuisi ketimbang marah-marah. Alangkah bahagianya, warga kota ini jika memiliki pemimpin dengan senyum yang manis, suara merdu, dan pandai merangkai lirik. Oleh karena itu, kami mempertimbangkan secara saksama siapa yang memenuhi kriteria tersebut.

Semalam, saking pedulinya terhadap kota ini, kami begadang untuk menentukan dua orang yang dinilai paling cocok untuk memimpin Jakarta selama lima tahun ke depan. Dalam mengambil keputusan, Koalisi Kemesraan sangat memperhatikan aspirasi simpatisan kami yang sebagian merupakan generasi milenial. Akhirnya, pilihan jatuh kepada Raisa sebagai gubernur dan Isyana sebagai wakil gubernur.

Kami tidak perlu menjelaskan siapa kedua penyanyi yang sedang tenar-tenarnya itu. Ketik saja nama mereka di peramban Google, informasi perihal Raisa dan Isyana ada banyak di internet. Termasuk kabar burung soal Raisa yang baru putus dengan Keenan. Melalui siaran pers ini juga, kami mendoakan Raisa segera move on jika berita itu memang benar.

Karena pendaftaran jalur mandiri atau perseorangan atau independen sudah lama ditutup dan Panu bukan partai resmi sehingga tidak dapat menggunakan jalur parpol, kami memutuskan untuk menggunakan jalur sepeda dan jalur busway. Semoga lewat jalur alternatif itu, kami tidak akan terjebak kemacetan. Namun, bisa saja kami terjebak nostalgia.

Kami belum memberi tahu Raisa dan Isyana tentang keputusan ini. Kemungkinan besar harapan kami akan bertepuk sebelah tangan dan Koalisi Kemesraan akan layu sebelum berkembang. Meskipun demikian, kami berharap kemesraan ini janganlah cepat berlalu.

Sambutlah pilkada dengan gembira!