Tentu saja ada sesuatu yang sangat istimewa pada dirinya sehingga kucing ini dibuatkan memoar. Dia Dewey. Lengkapnya, Dewey Readmore Books. Dia tinggal di Perpustakaan Umum Spencer, Iowa, Amerika Serikat. Selama sembilan belas tahun kehidupannya, dia telah menginspirasi seorang perempuan yang hidupnya penuh cobaan dan penduduk sebuah kota kecil yang terpuruk. Semua itu bisa terjadi karena ketulusan sang kucing.

 

Kira-kira delapan minggu setelah kelahirannya, Dewey ditemukan dalam keadaan nyaris beku oleh Vicki Myron—manusia yang kemudian menjadi ibu angkat bagi si kucing—di antara buku-buku dalam kotak pengembalian di Perpustakaan Umum Spencer. Dewey pun tidak ketakutan apalagi berusaha melawan seperti biasa dilakukan kucing buangan pada umumnya. Dia percaya manusia yang ada di hadapannya akan menolongnya. Tanpa pikir panjang, Vicky yang ketika itu menjabat sebagai direktur perpustakaan tersebut langsung menggendong dan menyelimuti kucing itu.

 

Dalam waktu singkat, Dewey berhasil membeli hati seluruh staf perpustakaan. Dengan dukungan rekan-rekan sesama pustakawan, Vicki memelihara Dewey di perpustakaan itu. Dari hari ke hari, kucing itu menjelma menjadi “duta perpustakaan” meskipun tidak ada seorang pun yang menunjuknya. Hewan kecil itu sepertinya telah memutuskan untuk mengabdikan diri pada perpustakaan yang kini menjadi rumahnya.

 

Secara fisik, Dewey digambarkan sebagai kucing jantan yang tampan dengan bulu jingga, mata lebar, dan telinga tegak. Namun lebih dari itu, dia bersifat terpuji. Kita bisa membacanya di halaman 112: “Dewey tidak memilih-milih orang yang disayanginya. Dia mencintai semua orang tanpa pilih kasih.” Setiap hari dia menemani semua pustakawan dan pengunjung sehingga mereka merasa merekalah satu-satunya orang yang diperhatikan oleh kucing itu. Setiap hari dia akan menyambut orang pertama yang datang ke perpustakaan, duduk di pangkuan pengunjung yang membutuhkannya, menemani anak-anak selama Jam Mendongeng, dan menjadi “wakil resmi” perpustakaan jika ada pengunjung yang mengadakan rapat di sana.

 

Bacalah bagian yang menceritakan hubungannya dengan anak cacat bernama Crystal di halaman 114-116.

 

Crystal adalah anak yang cacat fisiknya paling parah …. Dewey langsung memperhatikan Crystal, tetapi mereka tidak segera menjalin hubungan. Gadis itu sepertinya tidak terlalu tertarik pada Dewey …. Sampai pada suatu minggu, Dewey melompat ke nampan kursi roda anak itu. Crystal memekik kegirangan. Dan itulah suara pertama yang keluar dari mulut gadis remaja itu setelah bertahun-tahun mengunjungi perpustakaan. Satu keajaiban Dewey.

 

Crystal bukanlah satu-satunya sahabat Dewey. Selain dia, ada juga seorang gelandangan yang rutin datang ke perpustakaan dan seorang anak yang setiap hari ditinggal ibunya bekerja. Setiap kali menjemput anaknya di perpustakaan, si ibu selalu bertanya, “Apa yang Dewey lakukan padamu?” Pertanyaan itu membuka obrolan di antara ibu dan anak yang tidak memiliki banyak waktu untuk bersama itu.

 

Kehadiran Dewey berhasil meningkatkan jumlah kunjungan ke Perpustakaan Umum Spencer yang awalnya 63.000 menjadi lebih dari 100.000 per tahun. Dari pengunjung sebanyak itu, 19,4 persen datang dari county di sekitar Clay County, wilayah tempat Spencer berada. Dewey mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sekarang adalah staf publisitas yang secara tidak langsung telah menyebarkan keberadaan Perpustakaan Umum Spencer ke seluruh dunia. Dewey telah menjadi sahabat para pengunjung perpustakaan itu sehingga ketika dia kabur karena tergoda ingin mencicipi kehidupan di luar, banyak orang menanyakan, “Ke mana Dewey?”

 

Bagi orang yang tidak memelihara kucing, buku ini memberi pengetahuan bahwa kucing adalah binatang yang tertib. Dewey, misalnya, dia memiliki jadwal harian yang tetap. Mulai dari menyambut pengunjung setiap pagi sampai bermain petak umpet saat malam sebelum pustakawan terakhir pulang.

 

Memoar Vicki dan Spencer

 

Buku ini bisa juga dibaca sebagai memoar seorang perempuan yang tegar menjalani segala ombang-ambing kehidupan. Vicki Myron, penulis buku ini, dilahirkan dan dibesarkan dalam keluarga besar petani. Kemudian dia menikah dengan seorang lelaki baik yang lantas menjadi pemabuk kelas berat. Setelah dikaruniai anak perempuan, mereka bercerai dan Vicky menjadi orangtua tunggal. Namun, pada umur 28 tahun itu dia justru baru kuliah sarjana dan kemudian lulus dengan nilai terbaik. Di sela-sela kesibukannya sebagai Direktur Perpustakaan Umum Spencer, dia meraih gelar master di sebuah universitas yang berjarak empat jam perjalanan dari tempat tinggalnya. (Perlu diingat, waktu itu tahun 1988 dan belum ada kuliah jarak jauh.) Ketika perempuan yang mengagumkan ini merasa tertekan akibat pekerjaan penyakitnya, Dewey selalu ada di sisinya.

 

“Jika pikiranku mandek, lelah, atau tertekan, dia melompat ke pangkuanku atau ke keyboard komputer …. Dewey memang punya indra menakjubkan untuk mencari waktu yang tepat,” kenang Vicki. Lalu mereka berdua bermain petak umpet di perpustakaan yang telah sepi itu.

 

Spencer adalah kota yang belum banyak berubah sejak 1931 (hal 12). Dalam buku ini, kita dapat membaca perjalanan kota pertanian kecil yang mulai berubah sejak revolusi industri. Kemudian, kota ini terpuruk ketika Depresi Besar melanda Amerika Serikat pada dekade 1930-an. Keadaan ini diperparah dengan ludesnya pusat denyut ekonomi kota itu, Grand Avenue, akibat kebakaran besar yang diawali oleh seorang anak bermain api. Jika kota-kota lain segera pulih dari kebangkrutan ekonomi, tidak demikian dengan Spencer.

 

Pada akhirnya, kita akan menarik benang merah dalam memoar ini: Dewey, Vicki, dan Spencer berhasil bertahan dari keterpurukan dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Selamat membaca,

Moh. Sidik Nugraha

 

Identitas Buku

 

Judul: Dewey, Kucing Perpustakaan Kota Kecil yang Bikin Dunia Jatuh Hati

Penulis: Vicki Myron dan Brett Witter

Penerjemah: Istiani Prayuni

Penyunting: Mita Yuniarti dan Anton Kurnia

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Terbit: I, Oktober 2009

Tebal: 400 halaman

Harga: Rp49.000

 

buku_80Hari_kelilingduniaApa yang bisa mengalahkan kekuatan atau kemampuan fisik kita? Bukan, jawabannya bukan kekuatan otot orang lain, tetapi lemahnya tekad dalam diri kita. Sebaliknya, kekuatan tekad dapat menjadi bahan bakar penyemangat bagi orang yang secara fisik lemah. Begitu banyak kisah—entah itu nyata maupun rekaan—yang memberi kita pelajaran tentang hal ini.

Begitupun pesan yang bisa saya ambil setelah membaca novel Delapan Puluh Hari Keliling Dunia. Sekilas, mungkin tidak ada yang istimewa tersirat dari judul itu. Apalagi dengan kemajuan teknologi transportasi zaman kiwari, manusia bisa mengelilingi dunia dalam tempo lebih singkat. Bahkan dengan Google Earth, kita bisa keliling-keliling dunia dalam hitungan detik atau menit saja.

Namun, kita akan dibuat terperangah karena kagum mendengar cerita karya Jules Verne ini ternyata berlatar waktu tahun 1872. Ya, 137 tahun yang lalu, seorang pria Inggris bernama Phileas Fogg menyanggupi tantangan teman-temannya di Reform Club untuk mengelilingi dunia dalam 80 hari. Bukan hanya itu, tetapi lengkap dengan taruhan sebesar 20.000 pound sterling.

Taruhan dilakukan setelah anggota perkumpulan yang terhormat itu membaca berita di koran The Daily Telegraph. Koran itu menyebutkan bahwa dengan beroperasinya lintasan kereta api yang menghubungkan ujung barat dan timur India, manusia (orang-orang Eropa) dapat mengelilingi dunia dalam 80 hari. Bahkan, koran itu memuat pula rute atau kota-kota mana saja yang disinggahi, alat transportasi,  perkiraan waktu perjalanan antartitik tujuan. Misalnya, “Dari Yokohama ke San Francisco dengan kapal uap 22 hari.”

Phileas Fogg, sebagai lelaki Inggris sejati, pantang menolak taruhan. Maklum, bagi sebagian penduduk negara kerajaan itu, taruhan adalah “agama” kedua. Lelaki yang digambarkan sebagai sosok yang kalem dan penuh perhitungan—bahkan dalam setiap langkah kakinya—itu pulang ke rumah untuk berkemas dan segera berangkat. Sekadar gambaran betapa dia penuh perhitungan, Fogg memecat pelayannya karena menyajikan air untuk bercukur kurang hangat dua derajat dari biasanya.

Untuk menggantikan pelayannya itu, Fogg mempekerjakan seorang pria asal Perancis bernama Jean Passepartout yang patuh, keras kepala, dan ceroboh—sifat yang menjadi turunan dari keluguannya. Passepartotlah yang menemani Phileas Fogg mengarungi rute London, Suez, Bombay, Calcuta, Hongkong, Yokohama, San Francisco New York, dan kembali ke London.

Namun, siapa sangka jika perjalanan mereka dibuntuti oleh Detektif Fix yang mengira Fogg telah merampok 50.000 ribu pound sterling dari sebuah bank di London. Fix yang tergiur oleh iming-iming hadiah besar mulai berusaha menangkap Fogg sejak di Suez. Dia harus berhasil menangkap buruannya itu di wilayah koloni Inggris—India dan—Hongkong sebelum Fogg sampai di Amerika. Namun, tanpa surat penangkapan dari Inggris, detektif yang tak sabaran itu tak ubahnya macan ompong. Jadi, dia mengatur siasat untuk menghalangi perjalanan Fogg sampai surat penangkapan diterimanya. Setiap kali Fix membuat perkara untuk menghambat Fogg, saat itu pula buruannya berhasil lolos—mulai dari ditangkap polisi di Calcutta sampai ketinggalan Kapal Uap Carnatic menuju Yokohama di Hongkong.

Di sini, Jules Verne tidak menyajikan cerita detektif yang penuh dengan aksi kejar-kejaran. Dia malah menghadirkan cerita “kucing-kucingan” yang kalem antara detektif dengan buruannya. Bahkan, salah satu bab menceritakan Fogg menolong Fix yang menyamar sebagai penumpang kere yang ketinggalan kapal uap menuju Yokohama. Namun, Detektif Fix bukanlah satu-satunya penghambat dalam perjalanan Fogg dan Passepartout. Buasnya alam, kerasnya budaya lokal, dan serangan suku Indian memaksa lelaki Inggris itu memutar otak dan menguras kantong.

Sang penulis, yang sering dianggap sebagai pelopor penulisan fiksi ilmiah, dalam novel ini tidak menggunakan bahasa yang indah, tetapi dia menceritakan petualangan Fogg dengan bahasa yang mudah. Contohnya, ketika menggambarkan cuaca, dia menulis: “Cuaca menjadi buruk …. Angin, yang terus-menerus berada di barat laut, berembus kencang dan memperlambat gerak kapal uap itu.” Di sisi lain, Verne teperinci dalam perihal jarak. Mungkin ini dimaksudkan untuk mempertegas karakter Fogg yang matematis itu.

Keseluruhan cerita dalam buku yang terbit pertama kali pada 1873 ini ditutup dengan Bab 37 yang di bawahnya tertulis keterangan “Phileas Fogg tidak mendapatkan apa-apa dari perjalanannya keliling dunia selain kebahagiaan” sebagai ganjaran bagi kekuatan tekadnya. ***

Moh. Sidik Nugraha

Identitas Buku

Judul: 80 Hari Keliling Dunia

Penulis: Jules Verne

Penerjemah: Rahmani Astuti

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Cetakan: I, Juni 2008

Tebal: 307

film20971“Bapak bangga pada Indonesia,” cerita Guntur, tokoh utama film ini yang diperankan oleh Rangga Raditya. Bagi saya pribadi, sepenggal narasi ini membuat stop press di poster film Ketika Cinta Bertasbih yang berbunyi “Dijamin Mesir Asli” terasa konyol. Dengan alur ceritanya, dengan latar tempatnya—Pegunungan Ijen, rusa liar berkejaran, dan lanskap pedesaan di Banyuwangi—yang DIJAMIN INDONESIA ASLI, dengan lagu-lagunya, dengan para pemerannya, King membangkitkan kebanggaan saya pada Indonesia.

“Di kampung kami bulutangkis adalah satu-satunya hiburan,” kata Guntur dalam narasi di awal film. Namun, bukan hanya bagi penduduk Kampung Jampit, bulutangkis, melalui prestasi yang diraih para atletnya, pernah menjadi satu-satunya hiburan dan kebanggaan bagi rakyat Indonesia di tengah kerontangnya prestasi anak bangsa. Kenangan akan prestasi itu yang mungkin ingin diangkat kembali oleh sutradara sekaligus produser Ari Sihasale (Ale) dengan menghadirkan legenda-legenda olahraga tepak bulu nasional, seperti Ivana Lie, Haryanto Arbi, dan  Liem Swie King sebagai cameo.

Jalan cerita

“Garis besar film ini adalah kisah perjuangan Liem Swie King menjadi juara, tetapi dikemas dan digabung dengan cerita fiksi untuk memudahkan penggarapan,” kata Ale seperti dikutip dari Kompas, Minggu (28/6/2009).

Penduduk Kampung Jampit sangat menggemari bulutangkis. Di antara mereka, Tedjo (Mamiek Prakoso), seorang pengumpul bulu angsa yang akan dijadikan shuttlecock, merupakan penggemar berat Liem Swie King. Di rumahnya yang sederhana, dia memajang foto idolanya itu. Tedjo terobsesi untuk menjadikan anaknya seperti sang atlet. Dia memberi nama anaknya Guntur, yang merupakan julukan King karena smash-nya keras menukik. Sementara itu, si anak dijuluki King yang merupakan nama pendek sang atlet.

Awal film didominasi oleh konflik kesenjangan komunikasi antara Tedjo sebagai bapak yang tidak ingin terlihat “lembek” dalam menyampaikan rasa sayangnya dan Guntur yang tidak berani menyampaikan perasaannya karena takut dicap durhaka. Konflik seperti ini mungkin dialami oleh hampir semua anak lelaki dan bapaknya, terutama anak yang memiliki bapak dengan obsesi olahraga.

Setiap kesalahan yang Guntur lakukan dan setiap kekalahan yang dia alami selalu berakhir dengan hukuman skotjam 100 kali, lari 50 keliling, serta cemoohan sang bapak yang mungkin sebenarnya dimaksudkan untuk memacu semangat: “Sudah dinamai King, masih saja kalah.” Acungan jempol patut diberikan untuk Mamiek yang di film ini berhasil lepas dari bayang-bayang komedi grup Srimulat. Namun, sayangnya klimaks konflik terasa kurang dengan hanya menggambarkan Tedjo dan Guntur tidak saling tegur sapa selama tiga hari. Mungkin, sebaiknya ketika Guntur marah dan menghamburkan bulu-bulu angsa yang telah dipilih bapaknya, Tedjo muncul dan marah besar, lalu mematahkan raket kayu milik anaknya.

Untung saja, Guntur memiliki sahabat setia yang bandel dan konyol bernama Raden (Lucky Martin) dengan rambut kribonya. Dengan kebandelannya, Raden meminjam tanpa izin raket dari Kang Raino (Ariyo Wahab), mencuri senar gitar untuk menyambung senar raket yang putus. Dia pula yang mendaftarkan Guntur pada sebuah klub bulutangkis tanpa sepengetahuan sahabatnya itu. Dengan kekonyolannya, Raden mengocok perut penonton. Dia mengatakan bahwa di dalam piala kejuaraan bulutangkis tersimpan banyak uang.

Sampai di sini, saya berkesimpulan bahwa bapak yang keras—bukan kasar—seperti Tedjo dan sahabat yang setia seperti Raden merupakan “anatomi kesuksesan” yang dibutuhkan oleh setiap orang. Bapak dan sahabat seperti itulah yang membuat masalah, seperti senar raket putus, sepatu butut, ban sepeda bocor menjadi tak berarti.

Sutradara menyelipkan humor yang terasa “Indonesia banget” dengan memanfaatkan keberagaman bangsa kita. Dalam suatu adegan, pak pos yang bertampang khas Papua bertanya dalam bahasa Jawa yang legit, “Le, iki omahe Guntur?” Maka, hampir semua penonton pun tergelak.

Singkat cerita, Guntur yang hitam dan kurus itu berhasil bergabung di PB Djarum, Kudus. Dia diantar ke kota “suci” itu oleh Bang Bujang, orang Minang yang menjadi sopir colt buntung yang menjadi satu-satunya angkutan umum jarak jauh bagi penduduk Kampung Jampit. Setelah berlatih dalam bimbingan Haryanto Arbi langsung, Guntur menjadi juara dunia kelompok umur di bawah 16 tahun.

Tak bisa dimungkiri, PB Djarum memang melahirkan atlet-atlet bulutangkis yang telah mengharumkan nama bangsa. Jadi, kenapa Komisi Nasional Perlindungan Anak harus mempersoalkan pemunculan logo perusahaan rokok Djarum dalam film ini? Menurut saya, logo tersebut memang dibutuhkan demi keutuhan cerita.

Di bagian akhir, film King mengobati kerinduan saya untuk mendengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Terus terang, saya merasa lebih khidmat mendengarkan lagu itu dalam peristiwa-peristiwa olahraga bersejarah ketimbang dalam upacara bendera di sekolah dulu.

Indonesia Raya masih diputar mengakhiri film King, sementara ingatan saya melayang, mengenang momen ketika Susi Susanti dengan kalungan medali emas Olimpiade Barcelona 1992, dan dengan air mata berlinang memandang Sang Merah Putih dieret lebih tinggi dari bendera-bendera negara lain.

“Selamat menonton King bagi yang belum menonton.”***

Moh. Sidik Nugraha

Sore itu, Minggu (21/6/2009), saya dan ratusan—atau mungkin seribuan—penonton di Istora Senayan, Jakarta, kompak mengolok-olok pasangan ganda putri Malaysia Chin Eei Hui/Wong Pei Tty yang bertanding melawan pasangan Cina Cheng Shu/Zhao Sunlie.

“Huuuuuuu …” penonton bersorak ketika mereka berjalan memasuki lapangan dari ruang ganti. Namun, yang disoraki malah melambaikan tangan ke arah penonton. Penonton pun gondok.

Sementara itu, perlakuan berbeda diberikan kepada pasangan ganda putri Cina. Ketika mereka diperkenalkan oleh wasit, penonton bertepuk tangan berkepanjangan sehingga suara tepuk tangan memenuhi gelanggang bulutangkis itu.

“Ci-naa … Cina. Ci-naa … Cina,” penonton melagukan dukungan untuk Cheng Shu/Zhao Sunlie. Seandainya saja hubungan Indonesia dan Malaysia tidak terusik kasus Manohara, Siti Hajar, dan Ambalat, mungkin penonton akan balik mendukung Malaysia.

Pasangan Malaysia unggul. Teriakan penonton semakin liar. Bahkan, seorang perempuan berkulit putih dan bermata sipit dengan kacamata di depan saya berteriak, “Ma-no-ha-ra … Ma-no-ha-ra …” Kontan teriakan perempuan yang mengenakan jaket bertuliskan Olimpiade Mahasiswa 2008 di bagian punggung dan bercelana pendek setengah paha itu diikuti oleh seluruh penonton di Istora kecuali segelintir pendukung Malaysia.

“Ea … hu … ea … hu … ea … hu,” teriak penonton selama shuttlecock melayang di udara.

Ketika pasangan Malaysia semakin unggul di game kedua, teriakan “Manohara” semakin sering terlontar.

“Ma-no-ha-ra … Ma-no-ha-ra …” semakin membahana. Selang tidak beberapa lama, seorang pria paro baya berkepala botak dan berjenggot di tribun A6 berteriak, “Maaliing. Maling,” sambil menunjuk ke arah tribun yang diisi pendukung Malaysia. Tanpa dikomando, lagu berubah. Seluruh penonton bernyanyi,

“Maaliing. Maling. Maaliing. Maling.”

Namun, mental para pebulutangkis Malaysia ternyata sekuat baja. Mereka akhirnya merebut gelar juara ganda putri Indonesia Open 2009 di tengah ejekan pendukung Indonesia. Sukses ini diikuti rekan senegara mereka Lee Chong Wei yang menjadi juara tunggal putra setelah mengalahkan Taufik Hidayat.

Sepanjang pertandingan Lee juga mendapatkan ejekan yang tak kalah sengit dari penonton Indonesia. Dukungan untuk Taufik pun tak pernah surut diberikan melalui teriakan “In-do-ne-sia” dan nyanyian “Tau-fik … Tau-fik …”, kibaran bendera, serta tepuk tangan. Namun, ketangguhan Lee mengubur satu-satunya harapan tuan rumah untuk meraih gelar juara setelah menaklukkan Taufik Hidayat dua game langsung.

Apa pun cabangnya, olahraga selalu berkaitan erat dengan rasa kebangsaan. Hal ini sama-sama dirasakan oleh si atlet dan penonton. Oleh karena itu, ketika Taufik Hidayat meminta maaf atas kekalahannya, penonton di Istora bertepuk tangan sambil mengelu-elukan namanya. “Hidup Taufik!”

Satu hal yang perlu dicatat: olahraga adalah pembangkit semangat kebangsaan. Itulah yang tampak pada final Indonesia Open 2009 kemarin. Dan, kali ini yang menjadi “musuh” bersama pendukung Indonesia adalah saudara kecil kita, Malaysia yang hebatnya malah berprestasi gemilang di tengah ejekan dari saudara tuanya, Indonesia.***

Moh. Sidik Nugraha

yang hebatnya malah berprestasi gemilang di tengah ejekan

buku_the_farmished_roadGila! Gila! Gila! Serangkaian kata itu sering keluar dari mulut saya ketika membaca buku ini, The Famished Road. Atau jika membacanya di dalam kendaraan umum, saya sekadar melontarkan serangkaian kata itu dalam hati sambil mengulum senyum karena takut disangka mengatai gila orang yang duduk di sebelah. Namun, yang pasti saya tak pernah mengucapkan satu kata “gila” saja. Harus selalu serangkai (paling sedikit diulangi tiga kali): Gila! Gila! Gila!

Dalam kamus pribadi saya, kata “gila” baru akan saya keluarkan ketika saya melihat, membaca, mendengar, atau merasakan sesuatu yang tidak bisa diwakili oleh kata “keren”, “hebat”, atau bahkan “luar biasa”. Buku pemenang Booker Prize 1991 ini pun demikian, tidak bisa diwakili oleh bahkan kata “dahsyat” sekalipun. Dalam keliaran Ben Okri, pembaca akan menggila tanpa harus menjadi gila.

Novel ini berkisah tentang Azaro, seorang abiku atau anak roh dalam keyakinan tradisional penduduk Nigeria. Dia tinggal bersama ibu dan bapaknya di rumah sempit di perkampungan miskin. Ibunya adalah pedagang asongan di pasar dan kadang-kadang berkeliling untuk menjajakan dagangannya jika belum habis. Sementara itu, bapak Azaro bekerja sebagai buruh kasar yang rajin dan mulai frustrasi dengan penyakit miskin menahun yang dialami keluarganya. Selain mereka bertiga, ada juga Mak Koto, pemilik kedai minum bertubuh gempal yang dicurigai sebagai dukun berjampi-jampi pemikat oleh ibu-ibu di perkampungan itu karena suami mereka sering menghabiskan uang di sana.

Sebagai abiku, Azaro terikat perjanjian dengan teman-temannya. Dia berjanji akan segera kembali ke alam roh. Namun, karena tidak tega melihat ibu manusia yang telah melahirkannya bersedih, dia memutuskan untuk menunda kepulangannya ke alam roh. Oleh karena itu, dia mulai diganggu oleh teman-temannya dari dunia lain.

Dari awal sudah tampak jelas bahwa Ben Okri tidak bermaksud menyajikan sebuah kisah horor. Dia juga tidak memaksakan roh-roh dalam cerita ini untuk tampil menyeramkan. Bahkan ada beberapa roh yang menurut saya lucu, seperti hantu berkepala segitiga, hantu pincang, dan kucing berkaki tiga. Dalam hal ini, saya sependapat dengan Okri. Toh, dunia roh adalah alam yang sangat terbuka untuk dibayangkan, dijajaki, digambarkan, dan diceritakan dengan seliar-liarnya atau sebebas-bebasnya. Jadi kenapa alam yang satu ini dan tokoh-tokoh di dalamnya harus dicitrakan sebagai sesuatu yang menyeramkan dan mengancam manusia, seperti yang selama ini diangkat dalam film hantu Indonesia? Okri berhasil menembus alam roh yang lebih dalam daripada sekadar penjelmaan hantu.

“Tak ada seorang pun di antara kami (para roh) yang berharap untuk dilahirkan (ke dunia) …. Ada banyak alasan kenapa bayi-bayi menangis tatkala dilahirkan. Salah satunya karena mereka tiba-tiba terpisah dari alam mimpi-mimpi murni, tempat segala sesuatu tercipta dari daya pesona, dan penderitaan tak diizinkan tinggal di sana.” (Hal. 11 dan 13)

Dengan imajinasinya, penulis kelahiran Nigeria yang kini bermukim di London ini leluasa memberi warna dan aroma pada udara yang dihirup, gas buangan,  dan pikiran. Misalnya, “Ruangan jadi penuh dengan pikiran-pikiran berwarna ametis dan sepia. Dia juga menghidupkan hutan sebagai kearifan lokal yang digerogoti keserakahan global. Di bagian-bagian inilah saya lebih sering berkata, “Gila! Gila! Gila!”

Dalam wawancara di acara World Book Club radio BBC London, Ben Okri mengatakan tokoh Azaro hidup dalam dua realita (dual reality). Istilah ini dia gunakan untuk meluruskan pendapat audiens yang menganggap Azaro berkepribadian ganda (double personality). Dua kenyataan menyebabkan bocah kurus ini bolak-balik antara alam roh dan dunia.

Jika di alam roh Azaro dihadapkan pada kejahilan teman-teman halusnya, di alam dunia dia harus berhadapan dengan kerasnya kehidupan sebagai keluarga miskin. Di rumah sempitnya yang tidak dialiri listrik, dia tidur beralaskan tikar yang membuatnya selalu menyaksikan tikus-tikus mengerat lemari sebelum dia tidur.

Satu hal yang menurut saya paling menonjol di balik keliaran cerita ini terletak pada jalinan kasih ibu-anak antara Azaro dan ibunya. Bisa dibilang, dia lebih dekat dengan ibunya dibandingkan dengan bapaknya yang kasar, pemabuk, dan rakus. Sejak awal, pembaca diberi tahu bahwa alasan utama anak-roh ini memilih kembali ke dunia karena tidak ingin membuat ibunya bersedih. Begitupun sang ibu. Dia rela melakukan apa saja demi membawa kembali anaknya yang sudah tiga hari mati suri.

Namun pada suatu ketika, sang ibu mengeluh, “Aku lelah dengan hidup ini. Aku ingin mati.” Wajahnya tampak seperti topeng yang kaku dan aneh. Matanya tak bergerak dan keduanya tampak memandang ke jendela dalam sebuah konsentrasi yang misterius.

Azaro yang mendengar keluhan ibunya itu menceritakan:

“Tiba-tiba aku melihat sebuah visi kematiannya. Visi itu datang dan pergi dengan cepat dan ia meninggalkanku dalam kebingungan. Aku mengingat wajahnya ketika hampir mati setelah aku kembali ke rumah dulu …. Satu dari banyak janji yang kubuat sebelum lahir adalah membuat Ibu bahagia. Aku telah memilih untuk hidup, tapi sekarang ia ingin mati. Aku meledak dalam tangis. Kulemparkan diriku ke lantai dan meraung-raung.” (Hal. 388)

Ada juga sindiran untuk dunia politik yang entah kenapa mengingatkan saya pada kondisi Indonesia meskipun novel ini berlatar tempat di Nigeria. Pada halaman 655,  Azaro bercerita bahwa Partai Orang Kaya menjanjikan kesejahteraan untuk semua rakyat, jalan-jalan yang mulus, fasilitas listrik, dan pendidikan gratis. Selain itu, ada Partai Orang Miskin yang menjanjikan hal serupa pada penduduk di perkampungan miskin itu.

Saya akui alinea-alinea yang panjang cukup melelahkan mata. Bahkan satu halaman bisa diisi oleh satu paragraf. Namun, saya bisa menyelingi membaca novel yang dibagi ke dalam delapan bagian ini dengan melakukan aktivitas lain. Sekadar menambahkan, novel ini menginspirasi kelompok musik rock alternatif asal Inggris Radiohead untuk lagu Street Spirit.***

Moh. Sidik Nugraha

Identitas Buku:

Judul: The Famished Road

Penulis: Ben Okri

Penerjemah: Salahuddien Gz

Penerbit: Serambi Ilmu Semesta

Terbit: I, Juni 2007

Tebal: 846 halaman

KETERLALUAN: Kepala Teritorial Laut Luar dan Perbatasan
KESIAN: Kepala Seksi Anggaran
KEPALANG: Kepala Pengawas Lapangan
KEDEPAN: Kepala Departemen Pengadaan
KEPUKUL: Kepala Urusan Kuliner
KELABANG: Kepala Latihan dan Pengembangan
KEDEPAK: Kepala Departemen Angkutan
KECAPI: Kepala Cabang tak Bertepi
KELIPET: Kepala Lingkungan Pertamanan
KEDESAK: Kepala Departemen Sosial Kemasyarakatan

Jakarta, 2 Juni 2009

Moh. Sidik Nugraha

ke mana lagi kami harus menjerit
jika nasib tak juga dipedulikan elit
katanya Mei adalah bulan kebangkitan
bagi kami itulah bulan kehancuran

tiga tahun tanpa kepastian
kian-kian menipis harapan
bermimpi pun kami tak sanggup
artinya masa depan tambah redup

bahkan presiden seperti menyerah
kami lelah mencari siapa yang salah
tak perlu lagi janji-janji manis
malah bikin hati tambah miris

tapi kami tetap percaya
kami terus memelihara asa
di atas elit masih ada langit
di pintu langit kami menjerit

langit, rumah kami terkubur lumpur
juga cita-cita ikut tergusur
dengar-dengarlah keluhan kami
sungguh kami tidak sedang bernyanyi

bukankah kami juga orang indonesia
yang tak boleh dibiarkan mati sia-sia
bukankah kami juga punya hak yang sama
jangan biarkan kami sendiri terkuras air mata

Jakarta, 29 Mei 2009
Moh. Sidik Nugraha
untuk korban semburan lumpur Lapindo setelah 3 tahun bencana.

buku_indonesia_merdeka_kareSebenarnya, sejarawan Asvi Warman Adam menggunakan istilah “rindu tapi dendam” ketika menggambarkan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam bedah buku Indonesia Merdeka karena Amerika?, Selasa (26/5/2009) di Newseum Café, Jln. Veteran I No. 33, Jakarta Pusat. Acara yang menjadi bedah buku terakhir dalam rangkaian Festival Mei 2009 ini membahas karya bersama Frances Gouda dan Thijs Brocades Zaalberg tentang “Politik Luar Negeri AS dan Nasionalisme Indonesia, 1920–1949”.

“Buku ini menarik untuk melihat bagaimana perubahan politik luar negeri AS terhadap Indonesia, terutama pada masa revolusi kemerdekaan 1945–1949,” kata Asvi sebagaimana tertulis di sampul buku yang dia tegaskan kembali kemarin malam.

Selepas tahun 1920-an sikap politik AS terhadap kolonisasi Belanda di Indonesia tidak lagi sama. Penyebabnya, para petugas Korps Diplomatik AS di Jawa dan Sumatra mengeluarkan kritik tajam atas pemerintah kolonial Belanda yang melanggar kaidah-kaidah keadilan hukum ketika menangani kaum nasionalis Indonesia. Namun, perubahan sikap ini tidak terlalu drastis karena saat itu pemerintah AS masih memperhitungkan untung rugi jika memberikan dukungan pada Indonesia atau Belanda.

Perubahan baru benar-benar tampak pada 1948. Pada masa itu, Belanda yang masih tidak ingin kehilangan Indonesia—jajahannya yang telah memberikan keuntungan begitu besar bagi negara bawah laut itu—berusaha memengaruhi pembuat kebijakan di AS untuk mendukung mereka menguasai Indonesia kembali dengan menggunakan isu komunisme. Namun, AS berpikiran lain dan berbalik mendukung negara Indonesia yang baru berumur tiga tahun. Menurut hitung-hitungan untung rugi para penentu kebijakan di Washington D.C., mereka akan mengeluarkan biaya jauh lebih besar jika mendukung Belanda terutama dalam hal pengadaan senjata—sebagai gambaran pada Mei 1947 Belanda telah menghabiskan 68 juta dolar AS. “Jadi, kita bantu sedikit Indonesia, dan biarkan negara baru ini menyelesaikan masalah selanjutnya.” Mungkin, kalimat ini yang ada di benak pemerintah AS saat itu.

Di sisi lain, buku ini menampakkan secara sekilas betapa jelinya para pendiri negara Indonesia melihat dan memanfaatkan peran negara besar seperti AS terutama pada masa-masa rawan setelah proklamasi. Pada saat itu, bantuan dunia internasional sangat dibutuhkan untuk mempertahankan kemerdekaan negara ini sehingga peran diplomasi luar negeri menjadi penting.

Haji Agus Salim yang menjabat menteri luar negeri saat itu, mengirim beberapa diplomat untuk menggalang dukungan dari Blok Timur, sementara itu Soekarno dan Mohamad Hatta menunjukkan sikap menjauhi komunisme dengan menolak kerja sama dengan Vietnam. Penolakan ini tidak lain demi meraih bantuan AS. Sementara itu, setelah bantuan didapatkan, kita mengetahui bersama Soekarno sering mengecam AS.

Sebaliknya, AS pun bersikap mendua. Contohnya, mereka mendorong Indonesia menerima kesepakatan Konferensi Meja Bundar yang nyata-nyata merugikan Indonesia karena diharuskan membayar utang warisan Hindia Belanda yang sangat besar. Namun, sebagai gantinya AS menjanjikan bantuan dana yang besar juga bagi Indonesia. Awalnya, bantuan berjalan lancar, tetapi selanjutnya tersendat. Kondisi ini mendorong Soekarno kerap “mengejek” AS, yang Asvi Warman Adam katakan sebagai hubungan “rindu tapi dendam” atau “benci tapi rindu”.***

Moh. Sidik Nugraha

“Ada pemain hebat dan pemain kelas dunia. Tapi ada juga pemain yang berusaha melampaui dua kondisi itu. Paolo (Maldini) adalah contoh yang sempurna,” kata Alessandro Del Piero mengomentari sosok Paolo Cesare Maldini, bek tangguh AC Milan dan tim nasional Italia yang dihormati kawan dan disegani lawan.

Saya tidak ingat secara pasti kapan saya pertama kali melihat aksi Paolo Maldini. Namun, saya sangat ingat dialah pencetak gol pertama AC Milan ke gawang Liverpool di Final Liga Champions Eropa di Istanbul, 25 Mei 2005. Inilah partai final sepak bola yang bisa dibilang paling seru sepanjang masa. Dan, pada pertandingan itu pula, untuk kesekian kalinya, Maldini menunjukkan permainan terbaiknya.

Ketika itu, pertandingan baru dimulai dan bunyi peluit pertanda kick-off pun rasanya belum meninggalkan telinga. Andrea Pirlo mengumpan dari tendangan bebas. Dan, Paolo Maldini melepaskan tendangan first time dengan kaki kanannya. Bola melesat mengoyak jala yang dijaga Jerzy Dudek. Maldini membuktikan kelasnya. Dia mencetak gol tercepat dalam sejarah Liga Champions. Dia juga menciptakan rekor baru sebagai pemain tertua yang pernah mencetak gol di final Liga Champions. Saat itu, dia mencontohkan dirinya sebagai bek modern yang rajin membantu serangan dan tak kendur ketika bertahan.

Fantastis! Seribu lebih pertandingan telah dia lakoni. Dalam sembilan ratus satu pertandingan, dia membela AC Milan dan sisanya bersama timnas Italia selama 24 tahun atau 25 musim pertandingan. Sepanjang kariernya yang gemilang, Maldini telah menyumbangkan 7 gelar juara Liga Italia, 5 gelar juara Liga Champions, 1 gelar juara Copa Italia, 5 gelar juara Super Copa Italia, 2 gelar Piala Toyota (Piala Interkontinental), dan 1 gelar juara Piala Dunia Antarklub. Pencapaiannya dalam bermain sepak bola pun rasa-rasanya akan sulit ditandingi oleh pemain mana pun.

Namun statistik hanyalah benda mati. Di balik semua angka itu, Paolo Maldini adalah teladan bukan hanya bagi pemain sepak bola, tetapi juga manusia pada umumnya. Dia selalu bermain elegan dan tidak kasar. Cara dia men-tackle pemain lawan selalu rapi dan bersih alias tidak membahayakan. Saya juga tidak pernah mendengar dia cedera berat serius. Bahkan, sebuah hasil pemeriksaan kesehatan melaporkan kondisi fisik Maldini—pada usia 40—sama dengan pemuda berumur 20-an.

Di luar lapangan, sikapnya pun tidak jauh berbeda. Dia adalah seorang suami dan ayah yang baik. Meskipun sekarang pemain sepak bola sering dianggap sebagai selebritis, Maldini sangat jarang atau bahkan tidak pernah diterpa gossip miring, lain halnya dengan David Beckham atau Cristiano Ronaldo. Padahal dia memiliki semua atribut kebintangan, kecuali satu yaitu kontroversi. Kisah hidupnya yang lurus-lurus saja tidak terlalu menarik bagi kebanyakan media yang lebih menyukai sensasi ketimbang prestasi. Dia tidak pernah dikabarkan melanggar disiplin klub atau timnas, apalagi berurusan dengan hukum akibat bertingkah nyeleneh.

Oleh karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang menjadikan dia idola mereka. Misalnya, Alessandro Del Piero (striker Juventus) tiba-tiba menelepon ke acara Milan Channel yang sedang mewawancarai Maldini. Melalui sambungan telepon Del Piero berkata,”Anda adalah (pesepak bola) nomor wahid!”

Bahkan para pendukung Inter Milan, yang menjadi seteru abadi AC Milan, pun turut memberikan penghormatan untuknya pada pertandingan sesama klub asal kota Milan yang menjadi derby de la madonina terakhir bagi Maldini, Minggu (15/2/2009). Dia membalas perlakuan pendukung Inter dengan tepuk tangan penuh hormat yang kemudian langsung dibalas lagi oleh para pendukung Inter Milan dengan penghormatan yang sama. Sungguh sebuah momen yang luar biasa mengharukan mengingat persaingan kedua klub sepanjang sejarah mereka.

Paolo Maldini mengawali karier profesionalnya 20 Januari 1985 ketika AC Milan bertandang ke markas Udinese, Stadion Friuli. Maldini yang saat itu berumur 16 tahun, mengenakan nomor punggung 14 masuk di babak kedua. Dia menggantikan Sergio Battistini yang cedera. Kemudian, di pertengahan sampai akhir kariernya, dia mengisi posisi yang ditinggalkan Franco Baresi, salah satu legenda Milan, sebagai bek tangguh dan kapten kesebelasan yang disegani. Sayangnya, sebagai pemain dia tidak pernah mengantar Italia menjuarai Piala Dunia yang kemungkinan karena itulah dia tidak pernah dianugerahi sebagai pemain terbaik dunia oleh FIFA  Namun, mengingat prestasinya di level klub, saya berpendapat Maldini layak menyabet gelar pemain terbaik Eropa, Ballon d’Or.

Pada 18 April 2009, Maldini—kini berusia 41 tahun—mengumumkan pengunduran dirinya sebagai pesepak bola.ketika Serie A musim 2008/2009 berakhir. Sebagai bentuk penghormatan,  kaus bernomor 3 akan digantung untuk sementara sampai anak tertuanya, Christian Maldini (13), siap bergabung dengan AC Milan senior sebagai generasi ketiga penerus dinasti Maldini di Milan.

Di sektor pertahanan sebelah kiri, kehebatan Maldini mungkin hanya bisa disaingi oleh Roberto Carlos, mantan bek Inter Milan, Real Madrid, dan timnas Brazil. Carlos memiliki kelebihan pada kaki kirinya yang sering menghasilkan gol melalui tendangan superkeras. Namun, Maldini mempunyai keseimbangan pada kedua kakinya. Maldini dan Carlos bisa dibilang pemain seangkatan, tetapi Carlos terlebih dulu mengundurkan diri dari level permainan teratas Eropa, sementara Maldini masih bertahan jauh-jauh hari setelahnya. Melebihi segala kesempurnaan fisiknya, dia memiliki ketenangan yang menjadi modal pokok seorang kapten dalam memimpin rekan setimnya. Banyak pelajaran bisa dipetik dari pengalaman orang penuh dedikasi seperti Paolo Maldini, seorang legenda dan idola yang akan semakin sulit dicari karena saat ini dan nanti sepak bola semakin digerogoti serakahnya industri.

Meskipun semalam Milan dikalahkan Roma, meskipun sebuah spanduk dari pendukung garis keras menghinanya, kebesaran Maldini takkan luntur sedikit pun. Bentangan spanduk, standing ovation (penghormatan dengan cara bertepuk tangan sambil berdiri) dari publik San Siro, dan begitu banyak pujian, menandai perpisahan dengan sang Kapten.

Terima kasih, Paolo Cesare Maldini!***

Moh. Sidik Nugraha

buku_tinta-cinta-sitti-hawwaJudul: Tinta Cinta Sitti Hawwa

Penulis: Dellafirayama

Penerbit: Zaman

Terbit: I, 2009

Tebal: 167 halaman

Terus terang, faktor judul menjadi pendorong utama saya membaca novel ini. Pertama, Tinta Cinta Sitti Hawwa terasa begitu berirama dengan kombinasi vokal empat “i” dan empat “a”. Ulangi sampai berapa kali pun, saya tidak bosan melagukannya. Kedua, sepanjang pengetahuan saya, nama Sitti Hawwa sangat jarang diangkat ke dalam novel meskipun sebenarnya dia sosok perempuan yang sangat akrab dengan kita—atau jangan-jangan karena terasa saking akrabnya sehingga luput dari perhatian. Jadilah Kamis (21/5/2009) kemarin yang kebetulan merupakan hari libur, saya melahap cerita pencarian cinta ini sejak tengah hari dan selesai bertepatan dengan hujan ronde kedua mengguyur Jakarta menjelang malam.

Sitti Hawwa, yang bernenek moyang Tionghoa, dianugerahi rupa cantik: kulit putih, mata sipit, wajah oval, tirus dengan tulang pipi tinggi, dan rambut sangat lurus. Namun, keadaan fisiknya itu membuat dia diledek, “Cina!” oleh teman-temannya di sekolah dasar. Sebagai balasan, Hawwa memberi nama seorang teman yang selalu habis-habisan meledeknya sampai menangis dengan panggilan “MALIK JELEK!”

Keadaan berbalik ketika Hawwa semakin dewasa. Bahkan sejak remaja, pujian atas kecantikannya mulai bergelombang dari mulut banyak lelaki, salah satunya MALIK JELEK. Dia bosan mendengarkan alasan “kamu cantik, baik, menyenangkan, dan membuatku bahagia” yang diucapkan para penaksirnya yang menggambarkan keegoisan mereka. Dia menginginkan alasan lain. Selain itu, dia juga merasakan kebahagiaan setiap kali menolak lelaki yang “menembak”nya. Inilah bentuk balas dendam atas ejekan yang dia terima sewaktu kecil.

Di kampus, Sitti Hawwa berteman akrab dengan Sandra yang sering memprotesnya karena terlalu pilih-pilih. Namun, Hawwa yakin suatu hari dia pasti menemukan Adam-nya yang mengetuk pintunya. Dan, sang lelaki pilihan yang ditunggunya itu dia temui secara tak sengaja di stasiun ketika menunggu KRL. Dari seluruh bagian tubuh lelaki itu, hanya satu yang paling diingat Hawwa yaitu mata “dengan dua buah manik yang hitamnya sempurna, sepekat malam tanpa cahaya”.

Ternyata, lelaki yang Hawwa temui di stasiun itu adalah Adam temannya bermain “tuhan-tuhanan” saat kecil. Adam yang lebih tua tujuh tahun darinya kini mengajar kuliah umum Filsafat di kampus Hawwa.

“Yap, Sitti Hawwaku, ini Adammu. Apa kabar?”

Hawwa harus menelan kecewa setelah mengetahui Adam telah beristri yang bernama Eva (secara kebetulan Eva atau Eve adalah nama lain Hawwa dalam bahasa Inggris). Padahal dia semakin meyakini lelaki itu sebagai belahan jiwanya. Untunglah di saat yang hampir bersamaan, muncul Malik yang baru disadarinya ternyata tidak berwajah jelek, tetapi tetap usil setengah mati dan masih pula mencintai Sitti Hawwa.

Lama-kelamaan, kesungguhan Malik mulai mencairkan kebekuan perasaan Hawwa. Sebab, jantung perempuan itu tak lebih dari sebongkah es krim yang lupa dimasukkan kembali ke dalam kulkas. Beri saja mereka perhatian dan tunjukkan sedikit kasih sayang, maka mereka akan meleleh.

Mengetahui Adam telah beristri, Hawwa cukup terguncang sampai-sampai sakit. Malik semakin mendapatkan kesempatan untuk mendekati gadis pujaannya itu sambil merawatnya ketika Sandra kuliah. Saat itu pula, Malik memperkenalkan organisasi yang bawah tanah yang bercita-cita mendirikan negara Islam kepada Hawwa.

Hawwa tertarik bergabung dengan organisasi itu dan beberapa kali mengikuti tilawah (pelajaran) serta membayar biaya “pencucian dosa”. Setelah dibaiat, mengikuti tilawah, dan berdiskusi dengan beberapa pentolan organisasi, Hawwa menyadari ada yang salah dengan organisasi itu. Lantas, dia memutuskan untuk keluar.

Menurut saya, bagian yang menceritakan petualangan Hawwa dalam organisasi itu terlalu panjang dan membuat jalinan alur terasa terputus. Mungkin, ada baiknya jika orang yang ditanyai perihal keganjilan organisasi itu adalah Malik bukan pentolan yang dipanggil “Abi” oleh pengikutnya, seperti ketika penulis menceritakan diskusi filsafat antara Hawwa dan Adam. Dengan demikian, konflik batin yang dirasakan tokoh utama akan semakin menjadi. Dia merasakan kehilangan Adam dibarengi keraguannya terhadap Malik.

Teror senantiasa membayangi Hawwa, keluarga dan sahabatnya setelah dia keluar dari organisasi itu. Cerita yang tadinya tentang percintaan, kini penuh ketegangan. Namun, yang lebih mencengangkan ternyata Adam dan Malik adalah anggota kelompok bawah tanah yang bercita-cita mendirikan negara Islam.

Secara umum, novel ini yang ditulis dengan cukup apik oleh Dellafirayama—seorang lulusan Sastra Indonesia Universitas Indonesia yang kini berprofesi sebagai guru SMP. Meskipun tema cinta sudah banyak ditulis, penulis cukup berani menjadikan kisah di balik kelompok penggiat berdirinya negara Islam dan mengkritiknya. Selain itu, selipan renungan tentang hal-hal kecil yang sering luput, seperti hujan, duduk di samping jendela, dan puisi memberi warna tersendiri dalam karya yang terinspirasi dari kisah nyata ini. ***

Moh. Sidik Nugraha